Untitled
Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh

Nama : Nadhila Effendy

No reg: 5415117419

Jurusan: Teknik Sipil

Prodi : Pend. Teknik Bangunan S1 (Non Regular)

 

ILMU TANPA AGAMA BUTA, AGAMA TANPA ILMU LUMPUH

Albert Einstein, pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” Ada dua entry point disini pertama tentang pentingnya agama untuk melambari ilmu pengetahuan dan yang kedua perlunya ilmu dalam pengamalan agama.

 Bila kita definisikan secara harfiah, ilmu menurut kamus bahasa Indonesia, adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara meristem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut. Lexy J. Moleong melihat ilmu sebagai pengetahuan yang didapatkan melalui proses kegiatan ilmiah. Oleh karena itu menurut Jujun S. Suriasumantri pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima sebab pada dasarnya ia dapat diandalkan dengan suatu fakta dan argumentasi yang komprehenship, meskipun tentu saja tidak semua masalah dapat dipecahkan secara keilmuwan.Dengan demikian, ilmu dalam pengertian ini didasarkan pada suatu fakta dan argumentasi yang berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran. Alan H. Goldman lebih melihat bahwa ilmu sesuatu yang diperoleh pada rujukan-rujukan tertentu yang diyakini kebenarannya, “knowledge is belief that is best explained by reference to its truth”. Dengan demikian, maka ilmu adalah pengetahuan yang didapatkan melalui proses kegiatan ilmiah dan telah teruji kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang sahih yang berlaku universal.

 Agama dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan(kepercayaan) dan kepribadian kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang behubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Menurut Albert Einstein (1879-1955) seperti dikuti oleh Burhanuddin Salam, agama adalah kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya, yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat disadari dengan akal. Agama juga diartikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam semesta alam yang tak dapat dipahami.

Bruno Guiderdoni (dalam M. Ridwan) mengemukakan pendapat yang disertai pula penalaran terhadap konsep agama. Dia membedakan istilah sains dan agama dalam banyak definisi, yaitu :

1. Bahwa sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”.
2. Sains berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna.
3. Sains mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis.
4. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan.

          “Meskipun pendekatan yang digunakan keduanya berbeda (ilmu dan agama) atau bahkan bertentangan, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menegaskan makna dan hakekat nilai kemanusiaan dan kehidupan manusia ” demikian menurut Ahmad Mufli Sulaiman.

Jadi, bisa di umpamakan agama dan ilmu adalah seperti jantung manusia dan otak manusia. Keduanya (jantung dan otak manusia) adalah Organ tubuh. Dimana organ-organ tadi mempunyai perannya masing-masing. Namun saling melengkapi dan mendukung satu sama lain untuk memproses kerja organ yg lain. Bila salah satu nya tidak ada, maka tidak akan ada kehidupan.